FILOSOFIS YAA BUNAYYA
Sistem pendidikan yang tepat pada anak usia pra sekolah akan sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian hingga dewasa kelak. Anak adalah individu yang unik. Setiap anak memiliki kebutuhan akan minat, tahap perkembangan, dan gaya belajar yang berbeda.
Mereka berhak untuk mengembangkan potensinya tanpa membedakan jenis kelamin, kondisi fisik, latar belakang budaya dan sebagainya. Nilai spiritual, cinta, kasih sayang, hormat, kesetaraan adalah nilai-nilai esensial bagi perkembangannya.
Mereka harus dipandang sebagai individu yang utuh dan memiliki potensi yang baik, maka dari itu KB-TK Yaa Bunayya sangat memperhatikan seluruh potensi yang ada seperti: potensi spiritual, potensi social, kognitif, bahasa, fisik motorik dan seni sebagai hal yang sama pentingnya untuk dikembangkan.
Makna Yaa bunayya
Lafaz “yâ bunayya” adalah satuan kata dari munada yang didahulukan dengan huruf nida‟ .
munada kata tersebut yaitu bunayya dan yâ sebagai huruf nida‟.
Dalam hal ini bunayya adalah bentuk tasghîr dari kata ibnî, bentuk kata ini digunakan untuk mengambarkan kasih sayang, dan biasanya kasih sayang dicurahkan kepada anak. kata ibn yang seakar kata dengan banâ (membangun) meniscayakan bagi orang tua untuk membangun karakter anak.
Lafaz “yâ bunayya” terdapat 6 tempat dalam 4 surat yaitu: Luqmân [31] ayat13-17, As-Shâffât [37] ayat 102, Yȗsuf [12] ayat 4-6, Hȗd [11] ayat 42.
Menurut Wahbah az-Zuhailî lafaz yâ bunayya dapat diartikan:
pertama, panggilan yang menunjukkan kasih sayang terhadap anak, terdapat pada QS. Luqmân pad [31] ayat 13-17 mengandung nasihat dalam menanamkan nilai akidah terhadap anak.
Kedua, panggilan kepada seorang anak yang telah memiliki usia produktif, hal ini ada yang mengakatan ketika usia 7 tahun dan ada yang mengatakan usia 13 tahun, hal ini terdapat dalam kisah Nabi Isma‟îl As-Shâffât [37] ayat 102.
Ketiga, panggilan kepada seorang anak yang memiliki akhlak mulia dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, sebagaimana dalam QS. Yȗsuf [12] ayat 4-6. Keempat, panggilan kepada seorang anak atas
kecintaan ayahnya, meskipun dalam hal ini anak tersebut durhaka terhadap ayahnya, sebagaimana dalam QS. Hȗd [11] ayat 42.
TUJUAN
Keluarga Islam terbentuk dalam keterpaduan antara ketentraman, penuh rasa cinta dan kasih sayang. Ia mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik di tengah masyarakat Islam maupun masyarakat nonIslam. Keluarga merupakan tempat pertama untuk pertumbuhan anak,
dimana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah).
Dalam hal ini seorang ibu dan ayah harus memiliki sikap jujur dan bertanggung jawab kepada keluarga dalam mengasihi dan mengayomi anak-anaknya. Dalam literatur Al-Qur`an, keluarga diistilahkan dengan alahlu yang berarti keluarga, kerabat. Sebagaimana firman Allah dalam
surah Thâhâ[20]: 132 sebagai berikut:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thâhâ [20]: 132)
Pendidikan anak oleh sang ayah merupakan salah satu kajian yang mendapatkan perhatian lebih dalam Al-Qur`an. Hal ini bisa dicermati dengan adanya beberapa percakapan bisa berupa ajakan atau dengan nasihat seorang ayah kepada anaknya.
Bagaimana dengan peran ibu? Apakah tidak dibahas dalam Al-Qur`an? Detailnya penulis belum mengetahuinya, tetapi ada dua hal yang akan disampaikan; Pertama, dari bagian sapaan “yâ bunayya” kebanyakan dilontarkan oleh sang ayah. Bisa
jadi hal ini merupakan kritikan Al-Qur`an untuk para ayah yang dewasa ini dianggap lalai terhadap anak-anaknya. Kedua, kebanyakan seorang ibu mempunyai naluri yang sangat kuat terhadap anaknya. Oleh karenanya AlQur`an tidak perlu membahas hal tersebut.
Sosok ayah adalah seseorang yang sangat berpengaruh dalam
membangun keluarga yang berkualitas dan menjadikan anak-anaknya menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‟âla. Namun, melihat dari sudut pandang pada masa sekarang, peran ayah sangat sedikit bahkan tidak ada dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya.
Peran yangseharusnya menjadi tanggung jawab penuh seorang ayah telah tergantikan oleh sang ibu. Sehingga ayah yang seharusnya dapat menjadi tauladan bagi anaknya tidak dapat dicontoh anak, karena ketidak ikut sertaannya di dalam proses pendidikan anak.
Ungkapan ” Yâ Bunayya ” (merupakan panggilan seorang ayah kepada anaknya ).
Dalam hal ini merupakan bentuk tashghîr atau perkecilan
dari ibni (نِاب .(Secara lafaz panggilan ini untuk anak laki-laki, tapi tidak jarang juga bersifat umum, artinya bisa juga dipakai untuk anak perempuan.
Tujuan dari pentashghîran ini adalah menggambarkan kasih
sayang, bisa juga menjadi suatu yang menggambarkan kemesraan.
Bisa jadi juga term yâ bunayya ini dipakai karena menyesuaikan kondisi psikis anak waktu itu. lafaz yâ bunayya adalah panggilan dari seorang ayah untuk seorang anak, yang di dalam Al-Qur`an dijelaskan bahwa posisi ayah berkedudukan tunggal dan posisi anak pun tunggal.
Hal ini memberikan arti bahwasanya titik fokus pembicaraan tersebut terpaku pada satu objek atau satu lawan bicara, dan ini memberikan efek yang berbeda dibandingkan dengan pembicaraan kepada berbagai objek. Ayat-ayat yang akan dibahas terkait lafaz yâ bunayya akan menjelaskan seberapa dekat antara seorang ayah dengan anaknya, dan bagaimana pengaruh dari pada dialog atau panggilan tersebut.
Pada bagian ini ditemukan berada pada empat surat makkiyyah,
salah satunya yakni QS. Luqmân[31] ayat 15-16:
وَاِنۡ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنۡ تُشۡرِكَ بِىۡ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡهُمَا وَصَاحِبۡهُمَا فِى الدُّنۡيَا مَعۡرُوۡفًا وَّاتَّبِعۡ سَبِيۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَىَّ ۚ ثُمَّ اِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَاُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ
” Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. ” ( Luqman 15 )
يٰبُنَىَّ اِنَّهَاۤ اِنۡ تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ فَتَكُنۡ فِىۡ صَخۡرَةٍ اَوۡ فِى السَّمٰوٰتِ اَوۡ فِى الۡاَرۡضِ يَاۡتِ بِهَا اللّٰهُ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيۡفٌ خَبِيۡرٌ ١٦
(Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi maha menghetahui ( al Luqman 16 )
Wahbah az-Zuhailî menjelaskan bahwa seorang dari Quraisy datang kepada Rasulullah yang meminta agar dijelaskan kepadanya berkaitan dengan kisah Luqmân al-Hakîm dan anaknya. Rasulullah pun membacakan surah Luqmân. Sedangkan pokok-pokok ajaran yang terkandung dalam surah tersebut terkait keimanan, kemudian kisah Luqmân merupakan potret orang tua dalam mendidik anaknya dengan
ajaran keimanan. Dengan pendidikan persuasif, Luqmân dianggap sebagai profil pendidik bijaksana, sehingga Allah mengabadikannya dalam AlQur`an dengan tujuan menjadi ibrah atau pelajaran bagi para pembacanya.
Kemudian Allah menjelaskan tipe manusia pembangkang terhadap perintah-Nya, hingga pada akhirnya mereka tidak mau mendengarkan AlQur`an. Hal ini jelas merupakan ajaran atau pengingat yang terbentuk pendidikan seorang ayah kepada anaknya. Ayat ini diturunkan di Makkah,
biasanya berisikan tentang suatu ketauhidan, kepercayaan atas suatu keniscayaan hari akhir, serta pelaksanaan prinsip-prinsip agama. Dewasa ini, materi yang menyesatkan bersama arus-arus utama yang desdruktif mengancam aspek-aspek spiritualitas, teladan dan nilai-nilai yang telah menjadi pegangan masyarakat, bahkan nilai-nilai materialistis
saat ini telah sampai ke dalam bangunan keluarga.
Hal itu telah memperlemah hubungan antar anggota keluarga yang semula memiliki hubungan erat. Hal ini menjadikan kebanyakan orang tua tidak lagi dapat melihat anaknya kecuali di kala mereka tidur.
sama sekali tidak dapat memandang anak-anak mereka untuk beberapa hari, bahkan berminggu-minggu. Jika demikian kondisinya, maka satu pertanyaan yang perlu diajukan
adalah dimana peran ayah dalam keluarga?. Jika demikian, maka fungsi ayah hanyalah sebatas memenuhi kebutuhan sandang dan pangan anakanaknya, obat-obatan beserta pemenuh biaya pendidikan dan sebagainya untuk anak-anak.
Dalam sebuah riset di dunia barat, Urie Bronfenbrenner menuliskan hasilnya dalam sebuah artikel yang berjudul The Origin of Alienation, dikatakan bahwa rata-rata seorang ayah dalam pengakuannya bertatap muka dengan anaknya dalam penelitian ini yang menjadi objek adalah seorang balita yang masih setahun hanya 15-20 menit saja dalam sehari.
Dengan durasi interaksi tercatat hanya 15 hingga 20 detik saja. Bayangkan saja jika hal ini terjadi di Indonesia.10
Struktur pendidikan dalam tema ini, yakni antara seorang ayah dan anak, dengan objek materi tentang ketauhidan, prinsip-prinsip agama yang harus dilaksanakan dan sikap antara keduanya.Peran ayah di sini sangatlah penting dalam tumbuh kembang seorang anak.
Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa absennya seorang ayah akan berdampak pada psikologis anak di masa dewasanya nanti. Seperti kemurungan, ketakutan yang tidak
teratasi, gampang depresi, kegagalan dalam segala hal.
Tentu hal ini tidak ingin terjadi pada anak-anak kita nanti.
Oleh karena itu, sangat penting sekali peran ayah dengan objek materi diatas. Hal ini menjadi pertanyaan ketika ayat dalam Al-Qur`an yang lebih banyak mengkisahkan dan menjelaskan pendidikan ayah kepada anaknya
dan juga dapat menjelaskan lebih rinci tentang lafaz yâ bunayya dalam AlQur`an ditunjukkan kepada siapa saja dan dalam kondisi apa saja.
