MENDIDIK DENGAN CINTA DOA DAN KETELADANAN 2
Mendidik Dengan Keteladan
Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia, segala perilakunya dicontoh dan ditiru, banyak sekali jasa yang sudah diberikan oleh para guru untuk kemajuan bangsa ini, guru yang efektif adalah guru yang menununaikan peran, tugas, dan fungsinya secara profesional, sebagai teladan, guru tidak hanya mengajar (instructor) secara tepat dan efektif, tetapi seyogyanya efektif dalam mendidik (educator), mendidik dengan keteladanan itu lebih efektif dan lebih baik daripada mengajar hanya dengan lisan saja ( Lisan al-hal ashahu min lisan al-maqal ), Guru adalah sumber keteladanan yang tiada henti, yaitu suatu pribadi yang penuh contoh teladan bagi peserta didiknya sampai akhir hayat. Mereka mendambakan seorang guru yang benar – benar bisa diteladani, dicontoh, ditiru, dan tidak punya cacat moral sama sekali. Keteladanan itu tidak hanya penting untuk peserta didiknya, namun lebih penting bagi dirinya sendiri dan juga untuk mengarahkan dirinya, jadi baik saja tidak cukup, tetapi harus menjadi yang terbaik, baik perkataan maupun perbuatannya.
Hal ini disebabkan guru menjadi orang tua kedua bagi peserta didiknya, guru mewakili orang tua peserta didik disekolah, sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga yang dalam arti luas merupakan keluarga kedua bagi peserta didik, oleh karena itu guru berperan sebagai orang tua kedua bagi peserta didiknya. Dengan kondisi demikian guru perlu berusaha sekuat tenaga agar dapat menjadi teladan yang baik untuk peserta didik dan masyarakat bangsa ini, segala tingkah laku, perbuatan, dan cara bicara guru akan mudah ditiru atau diikuti oleh peserta didik. Oleh karena itu sebagai guru harus mampu mamberi contoh yang baik kepada peserta didiknya.
Sementara itu, sebagai teladan guru harus berusaha membawa perubahan tingkah laku peserta didiknya. Hal ini sejalan dengan “ teaching is the guidance of learning actifities, teaching is for pupose of aiding the pupil learn” yang artinya bahwa mengajar itu memimpin aktivitas atau kegiatan belajar dan bermaksud membantu atau menolong peserta didik dalam belajarnya.Peran tanggung jawab guru sebagai orang tua dan teladan sangat didukung oleh kepribadian guru itu sendiri. Misalnya guru harus memiliki kejujuran yang tinggi, guru harus memiliki akhlak yang baik, guru harus bersifat pemaaf, guru harus memiliki sikap toleran, dan lain sebagainya. (Aminatul Zahrah “Membangun Kualitas Pembelajaran melalui dimensi Profesionalisme Guru” (Yrama Widya,Cet. I, Bandung, 2015).
Bertumpu pada beratnya tugas dan tanggung jawab guru selaku pendidik, yang secara gamblang akan merubah generasi ke generasi, maka tidak berlebihan jika para ulama / tokoh Islam dulu sangat berhati-hati dalam memilih guru yang dipercayakan membina dan membimbing anak- anaknya, Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam menjelaskan, Uqbah Bin Abi Sufyan ketika menyerahkan anaknya kepada seorang pendidik, ia berkata, Hendaklah engkau mulai memperbaiki anakku ini dengan memperbaiki dirimu sendiri, sebab mata mereka itu terikat dengan matamu, yang baik bagi mereka adalah baik bagimu dan jelek bagi mereka adalah jelek bagimu. Ajarkanlah kepada mereka biographi orang – orang bijaksana, akhlak orang terpelajar, dan rasa takut kepada Allah.
Didiklah mereka dengan pendidikan selain yang aku berikan, jadilah engkau bagi mereka bagai dokter yang tidak terburu memberikan resep obat sebelum mengetahui penyakitnya. Dan janganlah engkau bersandar kepada sesuatu udzur dariku. Karena aku sudah bersandar kepada kecukupan darimu. (Dr. Abdullah Nasih Ulwan “Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam” ( CV Asy Syifa, Semarang ).
Keteladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu menghargai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan dibiasakan dengan baik sejak awal maka akan memiliki arti penting dalam membentuk karakter sebagai guru yang mendidik. Keteladanan dalam pendidikan merupakan pendekatan atau metode yang sangat berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan dan membentuk serta mengembangkan potensi peserta didik.
Ada tiga unsur agar seseorang bisa diteladani atau menjadi teladan, yakni:
1. Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Kesiapan untuk dinilai berarti adanya kesiapan menjadi cermin bagi dirinya maupun orang lain. Kondisi ini akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan perilakunya menjadi sorotan dan teladan.
2. Memiliki kompetensi minimal, seseorang akan dapat menjadi teladan jika memiliki ucapan, sikap, dan perilaku untuk diteladani. Oleh karena itu, kompetensi yang dimaksud adalah kondisi minimal ucapan, sikap, dan perilaku yang harus dimiliki seseorang sehingga dapat dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain. Demikian juga bagi seorang guru kompetensi minimal sebagai guru, harus dimiliki agar dapat menumbuhkan dan menciptakan keteladanan, terutama bagi peserata didiknya.
3. Memiliki integritas, integritas adalah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satunya kata dan perbuatan. Inti dari integritas terletak pada kualitas istiqomahnya. Sebagai pengejawantahan istiqomah adalah berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya ( Zainal Aqib: 2011).
Menurut M. Furqon (2009) dalam Zainal Aqib, pendidik yang dapat diteladani berarti ia dapat juga menjadi cermin orang lain. Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut:
Pertama,
Tempat yang tepat untuk introspeksi, jika kita bercermin maka kita akan melihat potret diri kita sesuai dengan keadaan yang ada. Sebagai pendidik, kita harus siap menjadi tempat mawas diri, koreksi diri, atau introspeksi. Untuk itu, kita harus siap menjadi curahan hati para siswa kita.
Kedua,
Menerima dan menampakkan apa adanya, cermin memiliki karakteristik bersedia menerima dan memperlihatkan apa adanya. Hal ini dapat dimaknai sebagai pribadi yang memiliki sifat-sifat, seperti sederhana, jujur, objektif, jernih, dan lain-lain.
Ketiga,
menerima kapanpun dan dalam keadaan apapun, cermin memiliki karakteristik bersedia menerima kapanpun dan dalam keadaan apapun. Artinya sebagai pendidik harus memiliki sifat-sifat seperti pengabdian, setia, sabar, dan lain-lain.
Keempat,
Tidak pilih kasih/tidak diskriminatif, cermin memiliki sifat tidak pernah pilih-pilih, siapa saja yang mau bercermin pasti diterima. Artinya cermin memiliki sifat tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan, atau tidak pernah diskriminatif.Oleh karena itu, sebagai pendidik harus memiliki jiwa mendidik kepada siapapun tanpa pandang bulu. Semua anak apapun kondisinya harus dididik tanpa kecuali. Bahkan kita tidak dibenarkan memisah-misahkan atau memilih-milih kondisi siswa (exclusive), tetapi kita dalam mendidik harus bersifat inklusif.
Kelima,
Pandai menyimpan rahasia, cermin tidak pernah memperlihatkan siapa yang telah bercermin kepadanya, baik yang bercermin itu kondisinya baik atau buruk. Berarti cermin memiliki sifat pandai menyimpan rahasia. Sebagai pendidik yang pandai menyimpan rahasia berarti ia juga memiliki sifat-sifat, seperti ukhuwah atau persaudaraan, peduli, kebersamaan, tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan orang lain, dan lain-lain.
