MENDIDIK DENGAN CINTA , DOA DAN KETELADANAN 1
Mendidik dengan Cinta
Pendidikan dalam bahasa Arab disebut dengan “tarbiyah”, diantara maknanya yaitu kegiatan yang disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan) .
Pendidikan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didiknya tidak terbatas oleh ruang dan waktu sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Guru harus dengan tulus dan ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didiknya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di ruang kelas, dimanapun seorang guru berada, harus sanggup berperan sebagai seorang pendidik yang sejati.
Fenomena inilah yang dikhawatirkan redup atau bahkan hilang ditengah aktifitas pendidikan dinegeri ini, sebab jika hilang suasana kasih sayang antara guru dengan peserta didiknya, maka akan lahir sikap guru yang mengedepankan hukuman dari pada senyuman, lebih suka menghardik dari pada bersikap empatik. Maka yang akan terbangun antara guru dan peserta didik adalah antipati bukan simpati.
Pada zaman ini, di saat kebanyakan orang selalu mengedepankan emosi, di tengah mewabahnya kekeringan ruhiyah sosial, krisis kesantunan dan dekadensi moral, sudah menjadi satu keniscayaan bagi guru untuk lebih merngutamakan penanaman sikap santun dan keramahan di lingkungan madrasah / sekolah sebagai lembaga rekayasa sosial. Dalam arti bahwa sudah saatnya guru memberikan pembelajaran terhadap muridnya dengan hati (cinta dan kasih sayang).
Demikian pula, jika mendidikdilandasi rasa cinta dan suka pada profesi sebagai pendidik dan juga pada peserta didik, maka akan muncul suatu kekuatan (power) yang bersumber dari suara hati yang akan melahirkan berbagai emosi positif seperti kasih sayang, kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, keakraban, tawakkal serta sikap-sikap positif lainnya dalam berinteraksi dengan para peserta didiknya.
Sosok guru yang selalu menebar kasih sayang akan melahirkan sebuah kharisma. Peserta didik akan mencintai guru dengan cara mengidolakannya, serta menempatkannya sebagai sosok yang berwibawa dan disegani. Respon balik dari rasa cinta peserta didik terhadap guru yang mendidik dengan hati bisa terwujud melalui sikap-sikap positif. Misalnya penghormatan, kepatuhan, motivasi belajar, kecintaan terhadap tugas, dan rasa ingin selalu menghargai guru yang dicintainya. Dengan sikap-sikap seperti ini maka siswa akan merasakan bahwa belajar sudah bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan bahkan keasyikan. Maka akan muncul gairah untuk berprestasi di dalam jiwa siswa.
Mendidik bukan hanya sekedar transfer ilmu dan keterampilan semata, melainkan juga tentang penanaman nilai – nilai prinsip dalam hidup dan kehidupan, semua itu bisa efektif jika disampaikan melalui keteladanan,kelembutan, ikhlas dan penuh cinta sebagai bukti pendidik sejati, Hakekat mendidik dengan keteladanan dan cinta sesungguhnya untuk memuliakan diri kita sendiri, oleh karena itu kita akan mengutamakan kualitas spiritual, moralitas, intelektual, sosial dan integritas. Karena hidup hanya sekali dan apa pun yang kita lakukan akan dikenang sepanjang masa meskipun kita telah tiada. Aamiin…!!!
